Tuhan, Aku Sangat Lelah

Ada seorang anak kecil yang bersimpuh di depan pintu gereja. Anak itu meletakkan keranjang yang penuh dengan bungkusan keripik. Sore itu gerimis, orang-orang lalu lalang, buru-buru pulang. Dan anak itu sendirian dalam gigilnya yang mungkin sudah tak tertahan. Ia menyeka air matanya berkali-kali.

“Tuhan, aku sangat lelah. Aku berjualan keripik dari pagi. Berkeliling dari pasar ke pasar, menyusuri jalanan, hingga sandalku putus, tak satupun keripikku terbeli. Ini keripik kemarin, Tuhan. O, tidak, mungkin keripik dua hari lalu. Eh, sepertinya hampir sebulan masih dengan jumlah yang sama.”

Dan anak itu tak mampu lagi menahan tangisnya. Pecah di tengah hujan, jauh dari keramaian.

“Semua usahaku terasa sia-sia, Tuhan. Aku ingin semua segera berakhir. Sengsara juga deritaku ingin secepatnya lenyap.”

Tidak lama kemudian, lamat-lamat ia mendengar seseorang berbicara dari balik pintu.

“Kuatkanlah hatimu dan jangan lemah semangatmu. Jerih payahmu tidak akan sia-sia. Akan selalu ada upah untuk setiap usahamu.”

“Kaukah itu, Tuhan?” ia bangkit dari simpuhnya. Mendekati pintu.

Pintu pun terbuka. Muncul seorang kakek dengan membawa beberapa lembar uang.

“Aku bukan Tuhan. Aku hanya melakukan apa yang Tuhan inginkan. Berikan keripikmu, kebetulan hari ini kami sedang berpuasa dan membutuhkan keripik-keripik itu sebagai pendamping menu berbuka.

Anak itu pun pulang dengan riang. Selain keripiknya terjual habis, ia pun mendapatkan pelanggan baru.

=======

Usaha yang tidak membuahkan hasil memang tampak sia-sia dan melelahkan. Tapi Tuhan tidak ingin kita patah semangat. Ia ingin agar kita tetap kuat dan terus berusaha. Sebab segala sesuatu yang dikerjakan dengan tekun di dalam Tuhan tidak akan berakhir dengan sia-sia. Selalu ada upah bagi setiap jerih lelah kita.

Bagikan Artikel: