Sikap Menyerah

Sikap Menyerah
Sikap Menyerah

Ketika seseorang diperhadapkan dengan tekanan yang bertubi-tubi, dan sangat menekan, maka pada saat itulah manusia akan cenderung pasrah dan menyerah menghadapi kenyataan. Di dalam ilmu psikologi sikap ini disebut sebagai Learned Helplessness, atau sikap menyerah. Istilah ini dikemukakan oleh Martin Seligman danĀ  populer pada tahun 1975. Di kala itu Seligman membuat eksperimen sederhana dengan menggunakan anjing sebagai objek percobaannya. Dalam eksperimennya, Seligman memasukkan anjing tersebut ke dalam sebuah kotak dan memberi pembatas sebagai penghalang. Kemudian Seligman memberikan sengatan listrik secara berulang-ulang kepada anjing yang mencoba kabur ini. Tetapi kemudian ada sebuah hasil yang mengejutkan. Ketika batas penghalang tadi dihilangkan, anjing tersebut tetap diam dan tidak berusaha kabur lagi. Dari hasil percobaan ini diambil kesimpulan bahwa ketika seseorang terus berusaha dengan keras tetapi kemudian gagal, maka akan ada kecenderungan untuk diam dan tidak berbuat apa-apa, karena merasa semua usahanya sia-sia.

Learned Helplessness ternyata bisa terjadi di dalam kehidupan rohani kita. Ketika pencobaan dari iblis datang secara bertubi-tubi, kita kadang merasa tidak mampu dan kemudian terjatuh di dalam dosa. Mungkin kita seringkali menghindar dari godaan-godaan tersebut, tetapi kita selalu gagal dan akhirnya kembali jatuh ke dalam dosa yang sama. Sehingga pada akhirnya kita merasa percuma dengan semua usaha kita baik itu untuk datang lagi ke gereja, atau mungkin kembali membaca alkitab, sampai pada satu titik, kita berhenti sama sekali dan tidak mengusahakan apapun.

Tetapi hal berbeda di kemukakan oleh Paulus dalam 2 Korintus 4:1-2, di mana di dalam ayat tersebut Paulus menasihati setiap orang percaya untuk tidak tawar hati (menyerah) dan selalu menaruh pengharapan di dalam Tuhan. Paulus mengajarkan bahwa, meskipun manusia secara jasmani itu sangat lemah dan terus merosot, tetapi kita tidak boleh kehilangan semangat kita di dalam Tuhan, supaya manusia rohani kita semakin hari semakin diperbaharui. Sehingga ketika manusia rohani kita terus dibaharui, kita hanya akan tetap memandang kemuliaan Tuhan sebagai sumber pengharapan kita. Sehinnga ketika kita menghadapi tantangan, cobaan dan ujian kita tidak menyerah dengan keadaan, tetapi justru kita semakin kuat di dalam Tuhan.

Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meskipun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami semakin dibaharui dari sehari ke sehari. Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segalagalanya, jauh lebih besar daripada penderitaan kami.

2 Korintus 4:1-2

Bagikan Artikel: