Saudara dalam Kesukaran

Saudara dalam Kesukaran
Saudara dalam Kesukaran

Saat Ayub mengalami pencobaan, ketiga sahabatnya Elifas, Bildad, dan Zofar datang mengunjunginya. Pada awalnya mereka sangat memahami betapa berat penderitaan yang dialami Ayub. Saat memandang dari kejauhan, mereka hampir tak dapat mengenalinya lagi. Mereka menangis dengan nyaring dan merobek pakaian mereka serta menaburkan debu di kepala. Tujuh hari tujuh malam mereka duduk di tanah, di samping Ayub, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Namun setelah itu mereka membuat kesalahan dengan menyalahkan Ayub dan membuatnya semakin terpuruk.

Kita belajar banyak dari teman-teman Ayub tentang apa yang seharusnya dan tidak seharusnya kita lakukan untuk orang-orang yang sedang terpuruk. Sanggup menjadi seperti saudara ketika sahabatnya berada dalam penderitaan, bukannya malah memutuskan persahabatan. Seburuk apapun keadaan sahabat kita tidak selayaknya kita menyudutkan apalagi menjauh dari mereka. Berikan pertolongan semampu kita, tidak terbatas pada materi tetapi juga penghiburan dan semangat. Seperti yang tertulis dalam Yesaya 41:6, “Yang seorang menolong yang lain dan berkata kepada temannya: “Kuatkanlah hatimu!”

Sudahkah kita menjadi saudara dalam kesukaran bagi sahabat kita? Dengan memberi bantuan, semangat, dan kehadiran yang penuh arti. Terkadang kita tidak perlu mengucapkan apa-apa, karena kehadiran kita untuk mendengar dan berbagi rasa sudah cukup buat mereka. Dan banyak orang merasa tertolong hanya dengan kehadiran yang penuh kasih dari orang lain. Mintalah pada Tuhan agar kita diberi hati yang lapang untuk berempati atas pergumulan mereka dan pundak yang kuat untuk berbagi bersama-sama menanggung beban mereka.

Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.

Amsal 17:17

Bagikan Artikel: