Pertobatan vs Penyesalan

Satu lagi keterbatasan manusia yang harus harus kita akui adalah kita adalah makhluk yang terbatas. Jika saat ini kita berada di Sulawesi tidak tidak dapat berada di Malang secara bersamaan. Kita dikunci oleh waktu dan ruang. Oleh karena itu sebenarnya manusia tidak boleh membiarkan waktu lewat begitu saja. Jangan pernah menyesal atas apa yang kita lakukan, hiduplah dengan cara yang paling tepat dan paling akurat. Jika sekali saja kita merasa menyesal itu berarti kita sudah terlambat. Waktu sudah lewat dan tidak mungkin lagi untuk kita undur. Lalu bagaimana caranya agar kita tidak menyesal? Miliki hidup yang penuh dengan pertobatan. Pertobatan berbeda dengan penyesalan. Penyesalan terjadi karena sudah terjadi dan menyadari kesalahannya, sedangkan pertobatan menyadari sebelum terlambat atau melakukan kesalahan. Sama seperti ini orang yang bertobat tidak menunggu ditangkap baru menyadari kesalahannya, sedangkan orang yang menyesal setelah ditangkap baru menyadari kesalahannya.

Karena itu sebagai orang percaya kita harus memiliki hati yang penuh dengan pertobatan. Menyadari setiap kesalahan kita sebelum mendapat teguran, menyadari keterbatasan kita sebelum jatuh terpuruk, memohon ampun sebelum ditunjukkan kesalahan kita. Lebih tepatnya sadar diri bahwa kita ini makhluk terbatas, ada banyak kekurangan dalam hidup kita. Itulah sebabnya kita harus memperhatikan bagaimana kita hidup, jangan sampai kita menyesal sebab penyesalan tidak mengubah apa pun.

Jadi hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan.
Matius 3:8 (TB)

Bagikan Artikel: