Pembawa Damai

Pembawa Damai
Pembawa Damai

Dalam satu komplek perumahan, ada dua tetangga yang sebelumnya terlihat sangat rukun. Permasalahan bermula ketika anak-anak mereka saling melempar canda. Yang satu mengatakan rambut sahabatnya sangat kribo dan sahabatnya itu membalas dengan mengatai kulitnya sangat hitam.

Seorang anak tidak pernah memikirkan perbedaan sebagai sebuah masalah, namun ketika orang tua mereka mendengar barulah masalah itu timbul. Bagi orang dewasa, perkataan yang anak-anak lontarkan sebagai bentuk penghinaan.

Lebih baik menjadi anak-anak ketika kita mulai merasa kecewa dengan orang lain, sebab anak-anak tidak pernah memiliki pikiran-pikiran yang negatif layaknya orang dewasa. Memiliki sifat seperti anak-anak yaitu mudah melupakan kesalahan orang lain akan membuat kehidupan ini menjadi damai.

Saat Natal tiba, hendaknya tidak dijadikan ajang untuk saling menonjolkan kegiatan gereja masing-masing, namun berlombalah sebagai pembawa damai untuk dunia.

Ia harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, ia harus mencari perdamaian dan berusaha mendapatkannya.

1 Petrus 3:11

Bagikan Artikel: