Panjang Sabar

Panjang sabar sesungguhnya merupakan realita yang mendahului perjanjian itu, bahwa Allah dan umat-Nya harus selalu bersama-sama. Karena Allah memilih Israel menjadi kepunyaan-Nya, maka Ia menetapkan suatu perjanjian dengan mereka. Panjang sabar adalah fakta pengungkapan sifat Allah yang ada terlebih lama dari perjanjian itu. Kitab Mazmur mengatakan bahwa sebab Dia baik bahwasanya  untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. Panjang sabar dalam konteks perjanjian, berkembang ke arah pertanggungjawaban bersama kaum keluarga, sahabat, tuan dan hamba, atau dalam hubungan saling memiliki lainnya. Solidaritas dan pertanggungjawaban bersama ini  menunjuk kepada loyalitas dan kesetiaan Allah kepada umat-Nya. Meskipun seringkali umat-Nya menunjukkan ketidaksetiaan dan pemberontakan terhadap hukum-hukum-Nya dan terhadap diri-Nya. Allah tetaplah Allah yang panjang sabar dan secara terus menerus menunjukkan kasih dan kesetiaan-Nya kepada umat-Nya yang tidak setia. Inilah yang disebut dengan panjang sabar Allah, Allah tetap begitu mengasihi umat-Nya dan tetap sabar terhadap umat-Nya. kasih dan kesetiaan-Nya kepada umat-Nya yang tidak setia.

Setelah kita mengetahui kesabaran yang kesetiaan Allah, apa yang seharusnya kita lakukan?. Apakah kita akan terus hidup dalam ketidaksetiaan dan menyakiti hati Allah berulang-ulang kali seperti bangsa Israel. Jangan menganggap remeh kasih dan kesetiaan Allah yang luar biasa itu. Sebab keadilan Allah selalu berbarengan dengan kasih-Nya. Jangan menyia-yiakan lagi kebaikan dan kesabaran Allah. Mari berbalik dan menunjukkan kesetiaan dan kasih kita kepada-Nya. Hidup dengan menyenangkan hati Allah.

Pergilah menyerukan perkataan-perkataan ini kepada utara, katakanlah: kembalilah, hai Israel, perempuan murtad, demikianlah firman Tuhan. Muka-Ku tidak akan muram terhadap kamu, sebab Aku ini murah hati, demikianlah firman TUHAN, tidak akan murka untuk selama-lama-Nya.
Yeremia 3:12

Bagikan Artikel: