Nilai Sebuah Pemberian

Nilai Sebuah Pemberian
Nilai Sebuah Pemberian

Minggu lalu saya sedang mengantri sebuah tiket di stasiun kereta. Saya mendapat nomor antrian 18, sedangkan seorang ibu di sebelah bernomor antrian 51. Karena waktu tunggu yang masih lama, akhirnya saya membuka suara dan mengajak beliau mengobrol. Rupanya beliau ini seorang guru les dan anak-anak yang beliau ajari adalah yang tidak mampu dengan bayaran serelanya.

Beberapa menit kemudian, nomor antrian saya dipanggil untuk menuju loket. Kebetulan tujuan kereta ibu itu sama dengan saya. Saya pun membeli dua tiket dan memberikannya kepada ibu itu. Meskipun harga tiket tidak mahal, namun ada rasa sukacita yang memenuhi hati saya. Pemberian yang sederhana mampu menciptakan kebahagiaan yang luar biasa.

Saya mempunyai keinginan untuk berkunjung ke tempat ibu itu mengajari anak-anak kurang mampu. Saya ingin mengenal lebih dekat tentang anak-anak itu dan memberikan bantuan berupa alat tulis. Dalam hal berbagi, saya tidak sendirian sebab ada banyak tangan-tangan baik yang terulur.

Memberi itu tidak harus sesuatu yang besar. Saya merasakannya sendiri, walau memberi dalam hal kecil itu sudah membuat hati saya bersukacita. Saya juga pernah berada dalam posisi yang berkekurangan, di mana pemberian orang lain yang sederhana sudah sangat membantu kehidupan saya.

Nilai sebuah pemberian tidak diukur dari seberapa banyak yang kita beri, melainkan dari ketulusan hati kita. Tuhan tidak ingin berhutang kebaikan kepada kita. Apa yang sudah kita lakukan, akan Tuhan kembalikan berlipat kali ganda pada waktu-Nya.

Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi TUHAN, yang akan membalas perbuatannya itu.

Amsal 19:17

Bagikan Artikel: