Menjaga Api

Menjaga Api
Menjaga Api

Saya dan ayah baru saja membersihkan rak buku. Rupanya ada banyak berkas yang sudah tidak terpakai. Karena di rumah tidak ada mesin penghancur kertas, maka berkas-berkas itu harus dibakar. Saya dan ayah pergi ke kebun belakang. Kami memasukkan berkas-berkas itu ke ember yang terbuat dari aluminium lalu membakarnya. Tiba-tiba datang angin kencang dan ayah meminta saya saya untuk menjaga apinya agar tidak terbawa angin. Saya mulai menghalangi datangnya arah angin dengan menggunakan beberapa kertas yang belum terbakar dan api di dalam ember aluminiun itu tetap stabil.

Api selalu diibaratkan dengan emosi. Emosi yang dibiarkan menyala akan mampu “membakar” orang-orang yang ada di sekitar kita. Sewaktu kecil saya pernah gagal menjaga amarah sehingga saya mengamuk dan mengacaukan seluruh isi kamar. Selain itu saya juga marah-marah kepada keluarga saya. Untungnya waktu itu saya masih kecil sehingga amarah itu cepat hilang.

Mungkin orang lain tidak akan mempermasalahkan kemarahan seorang anak kecil, namun beda halnya jika kemarahan itu datang dari orang dewasa. Kemarahan yang tidak terkendali akan menimbulkan perpecahan dan akan melukai hati orang lain. Jagalah “api” kita agar tidak menjadi pemecah hubungan.

Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.

Yakobus 1:19-20

Bagikan Artikel: