Menjadi Orang Lain

Di sebuah kota seringkali terlihat seorang kakek yang berkeliaran di jalan-jalan. Kakek itu hampir menghampiri setiap tong sampah yang berjejer di trotoar. Setiap kali ada orang yang membuang botol bekas minuman, kakek itu langsung berlari dan memungutnya. Bahkan ada seorang pemuda yang hampir menabrak kakek itu karena tiba-tiba melintas di depannya. Pemuda itu sangat jengkel dan mencaci kakek itu.

Saat pulang dari bekerja, pemuda itu tanpa sengaja melewati sebuah gang kecil karena hendak mengantarkan barang. Tanpa disangka, ia bertemu kembali dengan si kakek yang sedang menjual botol-botol kosong. Botol-botol itu dihargai dengan beberapa lembar uang kecil yang hanya cukup untuk membeli sepotong roti. Pemuda itu lantas mengikuti si kakek, yang ternyata menuju ke rumah dengan dua anak kecil menunggu di depan pintu. Kakek itu meotong kue menjadi dua dan memberikan kepada kedua cucunya. Seketika pemuda itu merasa sangat bersalah. Dengan mudahnya ia mencaci kakek itu tanpa mengetahui beban di baliknya.

Seringkali kita bersikap seperti pemuda itu. Kita mencaci orang lain atas kesalahan-kesalahan yang mereka perbuat. Kita menjadi jengkel kepada orang lain karena mereka seringkali tidak bisa mengerti keinginan kita. Namun kita lupa untuk memosisikan diri sebagai orang lain. Kita ingin selalu dimengerti tapi kita tidak pernah bisa berbalik untuk mengerti kondisi orang lain.

Kita ingin menjadi berkat bagi orang lain, namun kita tidak berbuat demikian. Kita ingin dikasihi namun kita gagal mengasihi orang lain. Kita ingin dihargai namun kita selalu mencela orang lain. Ubahlah semua sifat-sifat itu dan cobalah untuk mulai melihat lebih dekat kehidupan orang lain.

Biarlah bibir dusta menjadi kelu, yang mencaci maki orang benar dengan kecongkakan dan penghinaan!

Mazmur 31:19

Bagikan Artikel:

Tags: , ,


youtube

youtube

youtube

Motivasi Terkini
youtube
Jesus
You might also likeclose