Menjadi Benar-benar Berharga

Ada sebongkah emas yang sangat sombong. Emas itu berkata kepada tanah, “Hai, tanah lihatlah dirimu. Kau sangat kelam, lemah, selalu berada di bawah dan injak-injak orang. Apakah kau bisa berkilau sepertiku? Aku sangat berharga.”

Tanah pun menjawab, “Aku memang tak berkilau sepertimu dan tak seberharga dirimu. Namun aku bisa menumbuhkan rerumputan, bunga-bunga, pepohonan dan menghasilkan buah yang memberi makan banyak orang. Apakah kamu bisa?”

Emas tak mampu menjawab, sebab ia merasa tak mampu melakukan itu semua. Emas memang sangat bernilai, namun tidak bisa memberikan manfaat bagi banyak orang.

Di dunia ini banyak orang yang sangat bernilai seperti emas. Sukses dalam pekerjaan, pandai dalam sekolahnya, menjadi sangat terkenal, namun tidak peduli terhadap orang lain. Hartanya menyilaukan tapi enggan berbagi pada yang membutuhkan.

Di sisi lain, ada orang-orang yang seperti tanah, begitu direndahkan namun mereka sangat peduli terhadap orang lain. Mereka berbagi dalam kekurangan dan mau berkorban untuk menolong sesamanya.

Hendaknya ketika Tuhan memberkati dalam segala hal, kita harus mampu menjadi berkat bagi orang lain. Makna sebuah kehidupan bukan terletak pada seberapa bernilainya kita, namun seberapa bermanfaatnya kita bagi sesama.

Kita menjadi bernilai di hadapan Tuhan ketika kita mampu menjadi berkat. Hati kita akan berkilau di mata Tuhan dan disitulah kita akan menjadi benar-benar berharga.

Buahku lebih berharga dari pada emas, bahkan dari pada emas tua, hasilku lebih dari pada perak pilihan.

Amsal 8:19

Bagikan Artikel: