Mengucap Syukur Itu Sederhana

Minggu kemarin saya berangkat ke gereja dengan menggunakan taksi online. Ibadah dimulai tepat pukul enam pagi dan saya harus berangkat sekitar pukul lima. Kebetulan di Malang saat itu musim dingin, suhu sempat menyentuh 9 derajat celcius di rumah saya.

Sementara kabut menutup separuh jalan, lamat-lamat terlihat laki-laki tua. Taksi online saya berhenti tepat di sebelah laki-laki tua itu. Sembari menunggu lampu berwarna hijau, saya amati beliau. Dengan rambut beruban, kulit keriput, topi lusuh dan handuk yang melingkar di leher, laki-laki tua berusaha menahan gigil tubuhnya. Dingin, mungkin itu yang ingin ia katakan.

Lampu pun hijau. Kaki-kakinya mulai bergerak mengayuh becak. Dan saya pun menjadi malu. Tuhan sudah memberkati namun saya masih sering mengeluh. Andaikan harus bertukar posisi, belum tentu saya sanggup mengayuh becak di pagi yang gigil.

Saya pun bersyukur sedalam-dalam saat itu juga. Mengakui kasih dan kemurahan Tuhan dalam hidup saya. Hasil sedikit yang mungkin saya terima, bisa jadi jauh lebih besar dari apa yang didapatkan dari mengayuh becak seharian.

“Tuhan Yesus terima kasih buat kemurahan-Mu. Terima kasih untuk segala nikmat yang Engkau beri. Dan ajarku untuk selalu bersyukur kepada-Mu.”

Bagikan Artikel: