Menghindari Perselisihan

Menghindari Peselisihan
Menghindari Peselisihan

Disadari atau tidak, mungkin kita pernah terjebak pada perselisihan yang merugikan dan merusak hubungan. Perselisihan yang disebabkan hal sepele, atau karena masing-masing merasa dirinya paling benar, tidak mau menghargai yang lain, dan tidak mau mengalah. Atau karena kita sedang memperjuangkan sesuatu yang nyata kebenarannya namun orang lain tidak mau menerimanya. Lantas bagaimana sikap kita untuk menghindari perselisihan namun tetap mampu menyatakan yang benar?

Sebisa mungkin hindari perselisihan dengan siapa pun itu. Seperti yang tertulis dalam 2 Timotius 2:23-25, “Hindarilah soal-soal yang dicari-cari, yang bodoh dan tidak layak. Engkau tahu bahwa soal-soal itu menimbulkan pertengkaran, sedangkan seorang hamba Tuhan tidak boleh bertengkar, tetapi harus ramah terhadap semua orang. Ia harus cakap mengajar, sabar dan dengan lemah lembut dapat menuntun orang yang suka melawan, sebab mungkin Tuhan memberikan kesempatan kepada mereka untuk bertobat dan memimpin mereka sehingga mereka mengenal kebenaran.” Ingatlah untuk tetap waspada, jangan mudah terpancing dan tersulut emosi. Hindarilah perselisihan, bersikap bijaklah terhadap segala situasi.

Tentu kita harus memperjuangkan hal-hal yang pasti kebenarannya, dengan demikian kita dapat berjuang dengan motivasi yang benar, tidak dengan perselisihan yang memecah-belah dan menjauhkan kita dari tujuan-tujuan Allah. Dan yang paling penting kita punya pegangan untuk tetap bertahan dan melakukannya sesuai kehendak Allah yaitu Alkitab. “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik (2 Tim. 3:16-17).”

Terhormatlah seseorang, jika ia menjauhi perbantahan, tetapi setiap orang bodoh membiarkan amarahnya meledak.

Amsal 20:3

Bagikan Artikel: