Menggenggam Batu

Menggenggam Batu
Menggenggam Batu

Dulu ada seorang wanita muda yang sangat cantik parasnya. Wanita itu kemudian bertemu dengan teman sekerjanya kemudian bertengkar. Sebagai bentuk atas kemarahannya tersebut ia mengambil sebongkah batu lalu menggenggamnya dan membawa batu itu kemana pun ia pergi.

Hari-hari pun berlalu dan dia tidak lagi menggenggam batu itu melaikan memikulnya karena jumlah batu yang sngat banyak. Wanita itu tidak lagi cantik, namun buruk rupa dan sangat bungkuk. Batu-batu itu telah menyita kebahagiaan hidupnya.

Kemarahan yang dipelihara akan mampu merusakkan kehidupan kita. Ketika kita tidak mampu melepaskan kemarahan dan memberikan pengampunan, maka kemarahan itu akan menggerogoti hati kita dan menyebabkan kerohanian kita menjadi sakit.

Tuhan tidak pernah mengajarkan untuk menyimpan kemarahan. Melalui diri-Nya di atas kayu salib telah menunjukkan bahwa kemarahan tidak lebih mulia dari kasih. Saat kita mengampuni, maka kita sedang melepaskan benih berkat yang akan kita tuai kelak.

Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.

Mazmur 37:8

Bagikan Artikel: