Mengalahkan Si Aku

Mengalahkan Si Aku
Mengalahkan Si Aku

Pagi tadi ada seorang wanita datang kepada saya. Wanita ini merasa telah lelah dengan sikap suaminya yang begitu egois. Selama ini wanita itu telah bersabar dan memberikan banyak nasihat namun suaminya tidak pernah mendengarkannya. Salah satu penyebab kehancuran dalam rumah tangga adalah ketika salah satu pihak masih membawa “Si Aku” dalam kehidupan barunya.

Saat memutuskan untuk menikah dan hidup bersama, maka keduanya telah menjadi satu daging di mana seharusnya “Si Aku” telah ditanggalkankan. Seorang suaminya tidak dapat mengambil keputusan begitu saja tanpa berdiskusi terlebih dahulu dengan istrinya, begitu juga sebaliknya. Ketika salah satu di antaranya memaksakan kehendak maka sama halnya tidak menghargai “dagingnya” sendiri.

“Si Aku” pada umumnya hanya akan mementingkah dirinya sendiri. Sifat seperti ini jika tetap diteruskan maka akan melukai orang-orang disekitarnya. Jika wanita yang saya jumpai tadi pagi tidak terluka hatinya, maka ia tidak akan datang kepada saya dengan air mata. Untuk bisa menjaga keharmonisan keluarga, maka kita harus bisa melepas semua atribut “Si Aku” untuk kemudian digantikan menjadi “Kita”. Tuhan ingin kita hidup sebagai pendamai dan itu artinya bahwa kita tidak boleh egois.

Sama seperti aku juga berusaha menyenangkan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat.

1 Korintus 10:33

Bagikan Artikel: