Menanggung Kesalahan Orang Lain

Menanggung Kesalahan
Menanggung Kesalahan

Saya mempunyai seorang adik yang sangat sulit dinasihati. Adik laki-laki saya suka bermain bersama dengan teman-temannya. Seringkali para orang tua teman-temannya itu datang kerumah lantaran anaknya menangis karena ulah adik saya. Kemudian ayah saya yang meminta maaf kepada mereka dan tidak segan memberikan uang ganti rugi apabila mereka memintanya.

Ayah saya tidak melakukan kesalahan namun harus menanggung apa yang sudah adik saya lakukan. Ayah saya masih tetep mengasihi adik saya dan tidak pernah bosan mengajari hal-hal baik. Ayah saya mungkin marah, namun kemarahan ayah tidak sampai membuat hati adik saya terluka. Adik saya memang nakal, tapi karena kasih ayah, adik saya perlahan berubah.

Kemarin, sekarang, atau suatu saat nanti kita mungkin akan menanggung kesalahan orang lain. Kita mungkin kesal namun jangan sampai kesal itu membuat hati kita menjadi jahat. Kita harus tetap mengasihi orang-orang yang telah melukai kita. Sama seperti Tuhan Yesus yang rela menanggung kesalahan manusia dengan memberikan hidup-Nya di atas kayu salib. Itulah bukti kasih yang telah menyelamatkan kita. Oleh kasih kita juga telah menyelamatkan banyak hati orang-orang di sekitar kita.

Terpujilah Tuhan! Hari demi hari Ia menanggung bagi kita; Allah adalah keselamatan kita. Sela

Mazmur 68:20

Bagikan Artikel: