Menahan Berkat

Menahan Berkat
Menahan Berkat

Saat mengejarkan tugas kelas, Mita lupa tidak membawa penghapus. Kemudian ia memutuskan untuk meminjam pada teman sebelahnya. Tiba-tiba temannya itu menyembunyikan kotak pensil dan berkata pada Mita bahwa ia juga tidak membawanya. Padahal Mita baru saja melihat bahwa temannya itu menggunakan penghapus. Mita merasa kecewa, sebab hal sekecil itu pun tak dipinjamkan oleh temannya.

Kelakukan teman Mita berbanding terbalik dengan apa yang dilakukan oleh seorang Ibu. Ibu ini hidup tidak berkelimapahan namun juga tidak kekurangan. Suatu hari Ibu itu hanya memiliki beberapa kilo beras, mungkin hanya cukup dimasak selama dua hari. Tiba-tiba tetangganya datang padanya dan meminjam sedikit beras untuk dimasak saat itu juga karena belum mampu membeli. Ibu itu akhirnya memutuskan untuk memberi setengah dari stok berasnya tanpa mengharapkan kembali sebab ia pernah berada di posisi seperti tetangganya.

Terkadang memberi itu tidak sepenuhnya dari kelebihan yang kita miliki, namun dari kekurangan kita. Ada orang-orang yang mungkin hidupnya tidak seberuntung kita. Ada orang-orang yang memang benar-benar membutuhkan. Pemberian sekecil apapun dari kita bisa jadi merupakan pertolongan yang berharga bagi mereka.

Tidak perlu kita menunggu mampu baru mau memberi dan menjadi berkat bagi orang lain. Berlajarlah untuk bermurah hati dari hal-hal yang kecil, sebab Bapa kita di sorga adalah murah hati.

Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu.

Amsal 3:27-28

Bagikan Artikel: