Membayar Harga

Kehidupan kristen diumpamakan seperti membangun sebuah menara dalam situasi peperangan. Dalam memulai membangun suatu menara, haruslah cukup dana untuk dapat menyelesaikannya. Itulah sebab dalam membangun suatu menara dibutuhkan sebuah persiapan yang matang dengan sebuah anggaran dana agar dapat menyelesaikannya dengan baik. Demikianlah halnya dengan kekristenan, banyak kita melihat kehidupan orang-orang yang mula-mula begitu bersemangat, namun pada akhirnya tidak mampu bertahan sampai akhir. Dengan juga menara akan menjadi sebuah monumen yang merusak pemandangan mata, jika penyelesaiannya tidak sampai akhir. Menjadi pengikut Tuhan, ada harga yang harus kita bayar, dan itu tidak sedikit. Kita harus berjalan dalam pengorbanan, berpisah dengan orang yang kita cintai dan mengalami penderitaan demi nama-Nya. Menjalani hidup sebagai orang Kristen pun bukanlah hal yang mudah, semakin kita sempurna tidak sedikit orang yang mengejek dan mencerca, menjauhi dan merasa kita tidak layak bergaul dengan orang-orang tersebut.

Oleh karena itu, mari kita mempersiapkan hidup kita untuk dapat melewati semua dan siap untuk membayar harga sebagai murid Kristus. Memang benar saat menjadi orang Kristen kita tidak membayar apapun, tapi perjalanan hidup sebagai orang Kristenlah kita dituntut untuk membayar harga. Mari mempersiapkan diri, agar kita tidak menjadi seorang ahli bangunan yang membangun tapi tidak mampu menyelesaikannya, sehingga sia-sialah semua yang telah dilakukannya sejak awal. Orang yang bertahan sampai akhir, merekalah yang dikatakan sebagai orang yang berbahagia. Kiranya kita semua menjadi bagian dari orang-orang yang disebutkan sebagai orang yang berbahagia tersebut.

Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?
Lukas 14:28

Bagikan Artikel: