Membandingkan Berkat

Membandingkan Berkat
Membandingkan Berkat

Waktu itu hari masih sangat dingin, waktu menunjukkan pukul 03:05 pagi. Tidak seperti kebiasaan banyak orang yang rata-rata masih terlelap, Eko hari itu sangat bersemangat untuk memulai liburan perdananya ke Jepang. Sebuah negara yang sangat dia impikan untuk berlibur. Setelah siap dengan semua pelengkapannya, Eko berangkat ke bandara dan menuju ke lobi salah satu maskapai penerbangan untuk memesan tiket. Di tengah antrean Eko berbincang dengan salah satu calon penumpang yang bernama Budi, yang ternyata juga akan pergi ke Jepang dan membicarakan masalah harga tiket dari Bandung ke Jepang. Hati Eko menjadi sangat senang dan bersemangat karena menurut Budi harga tiketnya hanya satu juta rupiah saja.

Dengan langkah kaki yang pasti Eko mulai memesan tiketnya. Tetapi dia menjadi sangat kaget ketika harga tiketnya mencapai tiga juta rupiah. Eko yang tidak terima langsung mengajukan keberatan kepada petugas bandara. Dia berpendapat bahwa ada calon penumpang lain hanya perlu membayar satu juta rupiah untuk mendapatkan tiket tersebut.

Setelah diselidiki, ternyata Budi dan Eko memiliki tanggal pemesanan tiket yang berbeda. Budi memesan tiket tersebut satu tahun sebelum keberangkatannya. Sedangkan Eko baru memesan tiketnya saat dia akan berangkat.

Banyak sekali hal-hal yang membuat kita membandingkan diri dengan banyak orang. Ketika kita melihat orang yang sukses kita kadang merasa iri. Begitu juga ketika kita melihat saudara kita sudah mendapapatkan jawaban doanya, kita pun terkadang mempertanyakan semuanya ini kepada Tuhan.

Cerita tentang Eko dan Budi memberikan kita gambaran bahwa segala sesuatu ada prosesnya. Ketika kita merasa iri kepada teman atau saudara seiman kita yang telah mencapai puncak karir mereka maupun saudara kita yang sudah memperoleh jawaban doanya, kita tidak menyadari ada begitu banyak proses yang mereka harus hadapi. Ada begitu banyak pengorbanan dan usaha yang mereka lalui untuk mendapatkan berkat tersebut. Hanya saja kita tidak pernah tahu ketika mereka berdoa puasa, kita tidak pernah tahu ketika mereka berdoa sambil bersujud dan menangis demi memohon kepada Tuhan, dan kita juga tidak pernah tahu apa saja yang mereka sudah korbankan dan usahakan. Sehingga ketika mereka mendapatkan sesuatu sebagai berkat mereka, kita hanya bisa melihat hasilnya.

Maka dari itu, dalam menyikapi semuanya kita perlu kembali pada firman Tuhan.  Alkitab mengajarkan kita untuk tidak iri apalagi membandingkan diri kita dengan orang lain. Sebaliknya, firman Tuhan dalam Kolose 4:2 mengajarkan kita untuk bersyukur dan bertekun dalam doa. Bertekun dalam doa dan mengucap syukur adalah dua hal yang sangat efektif untuk menjauhkan kita dari dosa bersungut-sungut dan berpikir negatif.

Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa.

Roma 12:12

Bagikan Artikel: