Melihat Diri Sendiri

Melihat Diri Sendiri
Melihat Diri Sendiri

Pagi tadi saya berangkat bekerja menggunakan angkutan umum. Di dalam angkutan tersebut ada beberapa ibu-ibu yang memperbincangkan sesuatu. Salah satu di antara mereka berkata, “Si Ibu A mendadak baik di bulan puasa, menjadi banyak memberi, coba saj di hari biasa, pelitnya minta ampun.” Kemudian yang lainnya turut menimpali, “Lain halnya dengan Bapak B, mendadak alim.”

Sangat mudah bagi sekelompok ibu-ibu untuk mengoreksi kehidupan orang lain. Mungkin tidak hanya ibu-ibu itu saja, melainkan kita juga kerap mengoreksi orang lain. Ada dua hal yang bisa menjadi bahan perenungan saya secara pribadi dari hasil perbincangan ibu-ibu itu.

Yang pertama, berbuat baiklah setiap waktu tanpa menunggu datangnya saat-saat yang tepat sebab Tuhan memperintahkan agar kita mengasihi sesama seperti kita mengasihi diri kita sendiri tanpa memperhitungkan waktu. Kasih itu tidak mengenal waktu.

Yang kedua, menjaga nama baik Tuhan Yesus. Dengan tidak mengumbar aib orang lain, itu sama halnya kita sedang menyelamatkan diri kita sendiri. Pastinya kita tidak ingin dicap sebagai penggosip atau dicap sebagai orang pelit, jahat dll. Saat kita menjaga nama baik Tuhan, pasti kita akan berhati-hati dalam menjalankan kehidupan. Kita akan mematuhi apa yang Tuhan perintahkan, maka kehidupan kita akan terpelihara.

Ketika kita secara tidak sengaja mendengar seseorang bergosip, maka jadikan alat untuk mengoreksi kehidupan kita sendiri. Sudah pantaskah kita membicarakan keburukan orang lain sementara diri kita sendiri masih banyak melakukan dosa?

Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.

Matius 7:5

Bagikan Artikel: