Melepaskan Kekesalan Hati

Melepaskan Kesesalan
Melepaskan Kesesalan

Beberapa waktu lalu kakak menguhungi untuk menyampaikan kabar yang dia dengar dari orang lain, di mana saya telah melakukan sebuah pelanggaran. Saya sangat terkejut menerima kabar yang sebenarnya tidak pernah saya perbuat. Sebagai seorang manusia, rasa kesal dan kecewa itu muncul lantaran kakak lebih mempercayai orang lain dibandingkan dengan saudaranya sendiri.

Kejadian itu akhirnya menyita kebahagiaan saya. Berulangkai saya mencoba menghindar ketika secara tidak sengaja bertemu dengan kakak. Di tempat kerja pun tidak bisa berkonsentrasi dengan baik. Hal inilah yang akhirnya membuat saya memutuskan untuk berbagi beban kepada orang tua.

Ayah mendengarkan kisah saya dengan baik, sebelum akhirnya memberi masukan yang menenangkan, “Itu hanya asumsi mereka, abaikan saja. Kalian ini saudara, jangan hal-hal luar begitu mengganggu pertumbuhan rohani kalian.”

Hati saya langsung luruh, seolah seperti disiram air es. Emosi saya surut. Saya tersenyum sendiri dan menyesal sudah memikirkan hal yang buruk terhadap kakak. Betapa ruginya saya ketika meluangkan waktu dan pikiran untuk kekecewaan serta kemarahan. Selama masih memikirkan hal-hal yang negatif, maka hari-hari kita tidak akan menjadi berkat. Berkat datang ketika kita bisa bersyukur dan memaknai hari dengan hal-hal yang positif.

Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.

Filipi 4:8

Bagikan Artikel: