Kita Bukan Sampah, Kita adalah Istimewa

Ada seorang pemuda yang menangis tersedu-sedu di pangkuan ibunya. Pemuda itu merasa dirinya telah gagal karena selalu ditolak bekerja di beberapa perusahaan. Pernah suatu kali pemuda itu mendapatkan pekerjaan, tapi beberapa minggu kemudian dirinya dipecat.

Setiap kali pemuda itu pulang dengan kekecewaan, ibunya selalu memberinya semangat baru. “Hidupmu serupa sebuah tanah. Jika tanah itu tidak cocok ditanami padi, maka cobalah untuk menanam kacang. Jika kacang tidak bisa bertumbuh, cobalah menanam biji semangka. Jika biji semangka tidak bertumbuh, cobalah bibit bunga-bungaan. Jika masih tetap tidak bertumbuh dengan baik, coba tanamlah biji jagung. Pasti ada satu bibit yang sesuai dengan tanah itu dan akhirnya berbuah lebat.”

Karena pemuda itu memiliki hobi menggambar dan menulis, maka ia mencoba membuat buku belajar untuk anak-anak. Dengan gambar yang bagus dan kata-kata yang mudah dimengerti anak-anak, banyak penerbit yang melirik karyanya. Kini pemuda itu memiliki perusahaan yang menjual berbagai macam buku dan keperluan sekolah.

Kita ini bukan sampah, Tuhan melengkapi kita dengan talenta yang istimewa. Mungkin saat ini kita merasa sangat tidak berguna, tapi sesungguhnya kita sedang berada pada posisi yang tidak tepat. Tuhan ingin kita belajar banyak hal tentang usaha keras dan kesabaran sebelum akhirnya menemukan jalan yang tepat.

Siapa mengerjakan tanahnya, akan kenyang dengan makanan, tetapi siapa mengejar barang yang sia-sia, tidak berakal budi.

Amsal 12:11

Bagikan Artikel: