Ketika Menghadapi Penghianatan

Menghadapi Penghianatan
Menghadapi Penghianatan

Yesus tahu betul bagaimana rasanya dikhianati oleh orang terdekat yang sangat dikasihi-Nya. Ia dijual oleh murid-Nya sendiri, murid yang makan minum dengan-Nya, murid yang setiap hari selalu bersama-Nya dan seharusnya yang paling mengerti dan mengasihi-Nya. Yudas Iskariot menjual Yesus kepada imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat hanya demi sejumlah uang. Bahkan saat hendak menyerahkan pada prajurit dan pengawal-pengawal Bait Allah, Yudas mencium Yesus, seolah-olah ingin menunjukkan bahwa ia sangat mengasihi-Nya.

Semua orang pasti pernah mengalami keadaan seperti ini, dibohongi dan dikecewakan oleh orang terdekat, baik sahabat maupun pasangan. Tidak mudah memang membuat keputusan dalam hati kita. Disatu sisi kita merasa hancur dan tidak terima dengan segala kondisi, namun disisi lain kita tidak ingin berbuat dosa dengan membalas perlakuan tersebut. Pengkhianatan yang kita terima pasti menimbulkan sakit hati bahkan benci, namun kita harus menghadapinya bersama Tuhan.

Yang paling penting ketika kita menerima pengkhianatan adalah memberikan pengampunan. Bebaskan hidup kita dari kepahitan yang terjadi, kita tidak bisa mengubah masa lalu namun kita bisa mengubah masa depan. Balas dendam tidak ada gunanya, itu hanya menjadikan kita sama seperti mereka. Amsal 13:15 mengatakan, “Akal budi yang baik mendatangkan karunia, tetapi jalan pengkhianat-pengkhianat mencelakakan mereka.” Jadikan pengalaman itu sebagai pelajaran, buka hati untuk berkat Tuhan yang baru, karena Ia akan mengganti semua kesedihan kita dan memberi kita sukacita yang lebih besar.

Orang yang jujur dipimpin oleh ketulusannya, tetapi pengkhianat dirusak oleh kecurangannya.

Amsal 11:3

Bagikan Artikel: