Keras Kepala

Pada zaman itu, siapa yang tidak mengenal Raja Nebukadnesar. Ia adalah salah seorang raja terbesar dari kerajaan Babel. Semasa pemerintahannya, Babel mencapai puncak kejayaan. Sayangnya, di saat ia memperoleh semua kemahsyuran dan kekuasaan, ia menjadi congkak. Kesombongannya membuatnya merasa paling hebat. Menarik sekali bahwa Firman Tuhan memakai kata “keras kepala” untuk menjelaskan kesombongannya. Tampaknya, ada relasi yang kuat antara orang yang sombong dengan keras kepala. Hal ini masuk akal. Orang yang sombong biasanya tidak suka diberitahu apalagi ditegur dan dinasihati. Orang yang sombong merasa tidak membutuhkan orang lain sebagai penolong atau pengingat. Kalau sudah begitu maka ia juga sekaligus orang yang keras kepala.

Jika demikian kita bisa intropeksi diri kita, apakah kita termasuk orang yang keras kepala seperti firman Tuhan katakan. Contoh kecilnya adalah ketika kita sulit menerima masukan dari orang lain, kita sesungguhnya telah menjadi orang yang sombong. Hati-hatilah jangan kita menjadi congkak dan Allah menegur kita dengan keras.

Tetapi ketika ia menjadi tinggi hati dan keras kepala, sehingga berlaku terlalu angkuh, maka ia dijatuhkan dari takhta kerajaannya dan kemuliaannya diambil dari padanya.
Daniel 5:20 (TB)