Kasih di Atas Segalanya

Kasih di Atas Segalanya
Kasih di Atas Segalanya

Putri Mako adalah anak perempuan tertua dari Pangeran dan Putri Akishino, serta cucu pertama Kaisar Akihito (kaisar yang memerintah di kekaisaran Jepang saat ini) dan Permaisuri Michiko. Baru-baru ini Putri Mako memutuskan untuk menikah dengan lelaki bernama Kei Komuro yang berasal dari rakyat biasa yang bekerja di sebuah biro hukum di Jepang. Mereka bertemu saat masih menjadi mahasiswa di International Christian University di Tokyo. Setahun kemudian, Kei memberanikan diri melamar kekasihnya, dan ternyata tidak hanya diterima Putri Mako, tapi juga direstui kedua orang tua dan kakek neneknya. Dan karena jadwal keluarga kekaisaran yang padat, pernikahan Putri Mako dengan Kei Komuro ditunda hingga 2020. Meskipun hukum kekaisaran Jepang mengharuskan seorang putri harus melepaskan gelar kebangsawanannya dan segala hak yang melekat pada dirinya setelah menikah dengan pria biasa, namun sepertinya Putri Mako sudah memutuskan pilihan dari pertanyaan sulit tentang tahta atau cinta.

Kasih tidak memandang sesuatu dari cara dunia memandang, kasih melampaui standar rupa, harta, jabatan, status sosial, keadaan, perbedaan, kasih berada di atas segalanya. Kasih dapat meruntuhkan ego dan menghentikan perseteruan, mendobrak perbedaan dan menyatukan hati, melepaskan dendam dan membawa kedamaian. Kasih mampu mengatasi berbagai permasalahan, kasih mampu membuka jalan keluar. Karena kasih maka seseorang rela melepaskan apa yang dia punya dan menerima bagaimana pun keadaan orang yang dikasihi. Dan karena kasih pulalah Yesus mengorbankan nyawa-Nya untuk keselamatan kita. Alkitab menegaskan bahwa kasih adalah yang terutama. “Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (1 Kor. 13:13).”

Kita adalah generasi kasih, anak-anak Allah yang penuh kasih, yang punya tanggung jawab untuk menyebarkan kasih pada semua orang, keluarga, saudara, sahabat, pasangan, orang-orang di sekitar kita, dan orang-orang yang kita temui. Belajarlah untuk lebih sering mendengarkan orang lain dibanding menyela, belajarlah untuk lebih sering tersenyum dan bersabar dibanding meluapkan kemarahan, belajarlah untuk memaafkan dibanding mengingat-ingat hal-hal buruk dan pengalaman menyakitkan, belajarlah untuk menerima perbedaan dibanding mengusik dan merasa paling hebat dibanding yang lain, belajarlah merendah dan santun dibanding memegahkan diri, belajarlah untuk memberi dan ikhlas dibanding menuntut berlebihan, belajarlah percaya dan setia dibanding cemburu dan menuduh sembarangan, belajarlah bersikap adil dibanding mencari keuntungan pribadi dan mengorbankan orang lain. Kasih tidak pernah gagal dan tidak pernah salah, kasih berada di atas segalanya mengatasi segala sesuatu.

Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.

Kolose 3:14

Bagikan Artikel: