Kaca yang Kotor

Kaca yang Kotor
Kaca yang Kotor

Setiap pagi ketika sarapan, sang istri selalu berkomentar tentang tetangga barunya kepada suaminya. Ia mengatakan bahwa tetangga barunya itu selalu tidak bersih dalam mencuci pakaiannya dan membiarkan baju-baju yang dipakai tetangga barunya itu dalam keadaan kotor.

Begitu juga dengan pagi ini, sembari mempersiapkan sayuran, istrinya itu berceloteh, “Lihatlah tetangg baru kita itu. Kapan ya mereka bisa mencuci pakaian dengan bersih? Sudah sebulan ini kuperhatikan pakaian yang dijemurnya itu masih kotor.”

Pada keesokan paginya, sang istri menjadi terkejut karena ada yang berbeda dengan jemuran tetangga barunya. “Sejak kapan dia bisa mencuci pakaian sebersih itu?”

Suaminya menjawab, “Sejak pagi-pagi, sebelum kamu bangun dari tidur, aku membersihkan kaca jendela rumah kita.”

Kita lebih mudah menilai keburukan dari orang lain dan lupa untuk membersihkan pikiran dan hati kita sendiri. Menuduh orang lain lebih membahagiakan dari pada membenahi diri sendiri. Inilah akar-akar yang menyebabkan perselisihan dengan orang lain.

Mulailah untuk bisa menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang ada di dalam diri kita sendiri agar kita bisa melihat sisi baik yang dimiliki oleh orang lain.

Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu.

Matius 7:5

Bagikan Artikel: