Iri Hati dan Cemburu

Tentu kita semua pernah merasa iri hati dan cemburu kepada seseorang. Cemburu dan iri hati sulit untuk dibedakan. Sebenarnya kecemburuan lebih bertahan lama dibanding iri hati. Iri hati ditunjukkan kepada kepemilikan orang lain, sedangkan kecemburuan berkenaan dengan karakter. Masih ingat dengan Rasul Paulus sebelum ia bertobat. Ia menganiaya jemaat dengan penuh semangat, dikatakan berkobar-kobarlah hati Saulus. Dalam bahasa aslinya kata ini mengunakan kata yang sama dengan kecemburuan (cemburu). Jadi pada saat itu Saulus merasa cemburu karena perkembangan orang yang mengikut Yesus, sehingga muncul kecemburuan di dalam hatinya. Akibatnya tindakan-tindakan yang dilakukannya seperti itu. Semangat yang diarahkan demi keagungan Allah itu baik. Namun bila semangat itu mendorong kita menyerang orang lain demi nama Allah, itu bukan lagi semangat namun kecemburuan. Jadi kecemburuan akan menghasilkan tindakan-tindakan yang merugikan. Kecuali kecemburuan Allah terhadap kita. Kecemburuan Allah didasarkan pada Allah sebagai sebagai pencipta, penyelamat dan pengasih, karena itu Ia memiliki hak penuh dan kuasa tertinggi untuk cemburu sebab Ia mengasihi kita.

Oleh karena itu, mari kita menguasai diri kita, agar kita tidak menjadi orang yang mudah cemburu dan iri hati. Penyebab dari iri hati dan cemburu adalah cinta diri sendiri. Orang yang cinta diri ingin selalu diperhatikan, ingin dikenal dan ingin populer. Waspadalah dengan hal-hal tersebut. Ketika hal-hal demikian muncul dalam hati kita, mari kita pandang orang lain dengan perspektif Allah dan hiduplah dengan penuh perasaan cukup. Sebab rasa cukuplah yang akan membuat kita merasa puas.

Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.
Mazmur 37:8

Bagikan Artikel: