Hukum Kefanaan

Mengingat kefanaan diri mereka sendiri, manusia takut akan terlupakan. Lalu sebagai respons dari ketakutannya tersebut, bukannya berpaling kepada Tuhan dan membangun hubungan dengan satu-satunya kekekalan, mereka justru berupaya membangun sebuah menara dalam rangka mengekalkan nama mereka sendiri. Ini adalah sepenggal kisah dari pembangunan menara Babel. Jika kita lihat pada masa kini, sebenarnya tidak jauh berbeda dengan keadaan waktu itu. Manusia pada masa ini berlomba-lomba agar namanya dapat dikenal oleh semua orang dan berharap mereka nantinya tidak akan pernah dilupakan. Namun pada kenyataan dan pada waktunya manusia sebesar apa pun karya dan namanya akan dilupakan juga. Itu adalah hukum kefanaan. Semuanya pasti akan berlalu pada waktunya.

Karena itu sebagai orang yang mengenal Tuhan. Jangan lagi berfokus pada hal-hal yang hanya di kenang dalam kurun waktu tertentu. Tetapi kejarlah hal-hal yang bernilai kekekalan, yang akan ada sampai selama-lamanya bahkan ketika dunia berlalu. Kejarlah hidup yang menyenangkan hati Tuhan, hidup yang berkenan sehingga pada saatnya nanti ketika waktu kita telah tiba untuk kembali kepada sang pencipta, Ia mengenali siapa kita dan menyebut kita sebagai sahabat-Nya.

Karena tidak ada kenang-kenangan yang kekal baik dari orang-orang berhikmat, maupun dari orang-orang yang bodoh, sebab pada hari-hari yang akan datang kesemuanya sudah lama dilupakan
Pengkhotbah 2:16a

Bagikan Artikel: