Hidup Sebagai Perjalanan Piknik

Manusia sebagai makhluk Allah yang paling tinggi dan yang paling mulai dibandingkan dengan makhluk yang lainnya karena manusia dilengkapi dengan akal yang dapat digunakan untuk berpikir. Melalui akal pikiran tersebut manusia memiliki berbagai paradigma hidup, salah satunya hidup sebagai perjalanan piknik. Orang dengan paradigma bahwa hidup adalah sebuah perjalanan piknik, akan menjalani hidupnya hanya mengejar kenikmatan hidup, kebebasan dan kepuasan batin. Hidup dijalani dengan santai tanpa tuntutan tanggungjawab moral atau kewajiban. Karena orang-orang dengan paradigma hidup seperti ini mempercayai bahwa dalam hidup yang hanya sekali, yang terpenting adalah menikmati hidup sepuasnya. Mereka tidak memikirkan tentang masa depan, karena hari-hari yang dijalani hanya mencari kenikmatan hidup, demi memenuhi hasrat dan dorongan hati.

Masih banyak yang mengaku percaya, namun masih memiliki paradigma atau pandangan hidup demikian. Mereka hanya sibuk mengejar kenikmatan, kebebasan dan kepuasan batin, sebab mereka percaya bahwa hidup ini hanya sekali, yang terpenting adalah bagaimana agar dapat menikmati hidup di dunia ini. Tapi kita, sebagai orang-orang yang percaya jangan lagi hidup dengan paradigma ini. Ingatlah bahwa waktu kita di dunia ini terbatas, akan ada waktunya Dia yang menciptakan kita memanggil kita kembali kepada-Nya. Ingatlah juga bahwa kematian bukan akhir dari segalanya, namun awal dari kehidupan yang sesungguhnya. Ada penghakiman, sebuah tempat di mana kita mempertanggungjawabkan semua yang kita lakukan selama di dunia ini.

Sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap.
Yakobus 4:14

Bagikan Artikel: