Hidup dalam Kekuatiran

Hidup dalam Kekuatiran
Hidup dalam Kekuatiran

Seorang pria duduk termenung di sebuah bangku kursi taman. Saat itu bunga-bunga di taman sedang mekar dan anak-anak kecil berlari-lari dengan riang ceria di depannya akan tetapi ia hanya duduk dengan wajah yang murung sambil memikirkan percakapannya tadi dengan seorang dokter. “Saya menyarankan anda melakukan tes lebih lanjut lagi karena dari ciri-ciri keluhan anda, anda mungkin mengidap kanker.” Sang pria saat itu sangat shock dan langsung kehilangan semangat hidup. Ia duduk terdiam sambil memikirkan apa yang yang akan terjadi nanti kalau ia benar-benar divonis kanker? Apakah ia akan sembuh? Apakah ia akan menjalani sisa hidupnya dengan menderita? Apa yang akan terjadi pada istri dan anak-anaknya ketika ia tidak berhasil sembuh dan harus meninggalkan dunia? Berbagai bayangan mengenai masa depan yang suram tersebut terus-menerus terngiang-ngiang di pikirannya. Ia menjalani hari-harinya dengan murung dan cemas, pada akhirnya setelah mempertimbangkan beberapa lama, ia memutuskan untuk melakukan tes. Setelah beberapa hari kemudian hasil tes sudah sampai di tangannya dan ternyata ia dinyatakan tidak menderita kanker. Ia sangat bersyukur dan menyesali sikapnya yang pesimis dan menghabiskan hari-harinya menguatirkan hal yang sebenarnya tidak harus dikuatirkan.

Adakah orang yang karena kekuatirannya bisa menambah sehari saja umurnya? Sebaliknya menurut ilmu kedokteran, kekuatiran justru mengganggu kesehatan dan memperpendek kehidupan. Kemungkinan 98% dari hal-hal yang kita kuatirkan atau cemaskan tidak akan pernah terjadi. Dalam kehidupan ini, kita tidak akan pernah bebas dari kekuatiran.  Yesus sendiri mengalami tekanan emosi dan kekuatiran yang hebat pada malam ketika Ia akan ditangkap (Lukas 22). Alkitab mengatakan bahwa, ”Hati yang senang adalah kehidupan bagi tubuh”. (Amsal 14:30) Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah siap untuk segala kemungkinan terhadap situasi yang memang bisa terjadi dan kita harus menerima kenyataan bahwa ada hal-hal yang di luar kendali kita. Kita hanya perlu percaya bahwa apapun yang terjadi semuanya adalah kehendak Tuhan. Tuhan yang memegang kendali atas kehidupan kita dan kita harus percaya bahwa kita memiliki nahkoda yang terbaik. 1 petrus 5:7 berkata, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”

Kekuatiran dalam hati membungkukan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.

Amsal 12:25

Bagikan Artikel: