Hatiku Menjerit

Hatiku Menjerit
Hatiku Menjerit

Malam itu kubiarkan hatiku menjerit-jerit kepada Tuhan. Aku berteriak-teriak memanggil nama-Nya. “Bapa…Bapa…,” aku menangis dan mengeluarkan semua beban berat yang memenjara hatiku. Entah berapa lama aku berseru kepada-Nya. Aku merasa sangat tidak pantas untuk sujud di bawah kaki-Nya, sebab aku telah banyak menyakiti hati Tuhan.

Aku menjadi tidak malu lagi untuk berdoa. Aku katakan semua pada Tuhan dan belajar untuk berdoa dengan jujur. Tuhan mengenalku jauh melebihi diriku sendiri dan pastinya Tuhan juga tahu maksud di balik semua cobaan yang Dia izinkan terjadi dalam hidupku.

Mungkin saat ini Saudara mengalami hal seperti yang saya alami. Hati kita menjerit-jerit kepada Tuhan dan tangan kita meronta-ronta meminta pertolongan dari sorga. Seringkali kita tidak mampu bertahan “mengangkat tangan” dan iman kita menjadi kering lalu mati. Tuhan membiarkan kita berlama-lama mengangkat tangan adalah untuk melatih kekuatan tangan kita ketika Tuhan mencurahkan berkat besar.

Jadilah pribadi yang jujur di hadapan Tuhan. Jangan sembunyikan dosa atau harapan dari-Nya sebab semua usaha itu hanyalah kesia-siaan. Tuhan akan memberi sesuai dengan apa yang telah kita lakukan. Saat baik kelakuan kita, Tuhan akan memberikan yang baik pula.

Ya TUHAN, aku memanggil nama-Mu dari dasar lobang yang dalam. Engkau mendengar suaraku! Janganlah Kaututupi telinga-Mu terhadap kesahku dan teriak tolongku! Engkau dekat tatkala aku memanggil-Mu, Engkau berfirman: Jangan takut!”

Ratapan 3:55-57

Bagikan Artikel: