Harta yang Sesungguhnya

Ada seorang nenek yang gemar mengumpulkan barang-barang berharga. Barang-barang itu lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipikulkan sepanjang perjalanan seumur hidupnya. Makin hari karung tersebut makin berat dan si nenak idak mampu lagi berjalan dengan cepat. Nenak itu mulai merasakan sakit pada bagian punggungnya.

Ketika nenek itu diperiksa oleh dokter, dikatakan bahwa si nenek harus melepaskan karungnya dan meninggalkannya di panti asuhan atau punggungnya akan patah. Namun nenek itu tetap embawa karungnya dan beberapa hari kemudian punggungnya benar-benar patah.

Semua orang gemar mengumpulkan harta, mungkin salah satunya adalah kita. Dengan bekerja tiap hari, kita berusaha agar memiliki kehidupan yang layak. Atau bahkan banyak orang-orang dengan saudaranya yang berebut harta warisan.

Kita begitu sibuk memperkaya diri namun lupa pada siapa yang mengizinkan kita mendapatkan berkat. Harta seringkali membuat kita “sakit”. Kita tidak bisa lagi memahami kepentingan sesama. Saat Tuhan meminta kita untuk “melepaskan” harta itu, maka lepaskanlah. Bukan berarti dengan memberi, kita menjadi berkekurangan. Dengan memberi, hati kita akan kaya oleh kemurahan. Saat kita bermurah hati, maka Bapa di sorga juga akan bermurah hati kepada kita. Harta yang sesungguhnya bukan apa yang ada pada dunia, melainkan Tuhan Yesus tu sendiri.

Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.

Matius 5:7

Bagikan Artikel: