Berdagang dengan Tuhan

Salju tiba-tiba turun di malam hari, sementara satu keluarga baru sampai di kota tanpa persiapan apapun. Tujuan mereka masih jauh dan tidak banyak uang yang mereka punya. Tubuh mereka kedinginan, ayah memutuskan untuk membeli selimut.

Ayah memasuki sebuah toko yang sangat mewah, ia menyodorkan selembar uang 10 dollar. “Bisakah saya mendapatkan selimut dengan sepuluh dollar, keluarga saya sangat kedinginan di luar sana.”

Pemilik toko pun tersenyum, “Tentu saja, Tuan. Kebetulan toko kami sedang mengadakan diskon besar-besaran. Dengan sepuluh dollar bisa mendapatkan lima selimut.”

Ayah kembali menuju kereta dan membagikan selimut-selimut itu. Tak seorangpun menjadi kedinginan malam itu, semua bisa beristirahat dalam kehangatan.

Sementara anak pemilik toko berkata, “Kenapa Papa memberikan lima selimut termahal dengan harga sangat murah?” Dengan lembut Papa menjawab, “Sehari-hari kita telah berdagang dengan manusia dan kita mendapatkan banyak keuntungan. Kali ini kita berdagang dengan Tuhan. Dengan memberi kepada orang yang membutuhkan, itu sama halnya kita memiutangi Tuhan.”

Perasaan tidak rela seringkali muncul di hati ketika kita hendak memberi kepada orang lain. Kita pun mulai menimbang-nimbang pemberian atau bahkan menahannya. Saat kita menahan berkat Tuhan dan tidak membagikannya pada sesama, ibarat lumbung padi yang di isi terus-menerus hingga pecah.

Saat kita menjadi serakah dengan berkat-berkat yang telah Tuhan berikan, justru berkat itu akan menjadi bumerang. Hidup kita hanya akan berfokus pada harta, hingga hal-hal lain menjadi tak terurus. Kita akan lupa pada keluarga dan sahabat hingga akhirnya mereka meninggalkan kita. Tanpa kita sadari, kita telah kehilangan orang-orang terkasih.

Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.

Amsal 3:27

Bagikan Artikel: