Belajar dari Daniel

Dalam Kitab Daniel dijelaskan bahwa pada waktu itu Daniel tidak di dalam kondisi enak di zaman seperti zaman Yosua. Daniel berada di tempat pembuangan sehingga ia hidup di tengah-tengah masyarakat kafir. Di Babel tempat pembuangan Daniel sering berganti-ganti raja dan raja-raja tersebut memiliki kepercayaan yang berbeda-beda dan itu sangat berpengaruh kepada rakyatnya. Dari satu dewa ke dewa yang lain begitu seterusnya, intinya hidup Daniel di dalam situasi yang sangat sulit dengan kebudayaan yang sangat berlawanan dengan imannya. Tetapi pada saat itulah ia sebagai anak Tuhan ia harus berperan sebagai anak Tuhan.

Seringkali orang kristen yang memiliki berprofesi maka profesinya tidak ada hubungannya dengan imannya. Ada banyak orang yang menganggap ketika sedang bekerja bahwa pekerjaannya bukanlah bagian dari imannya. Dan ada banyak orang Kristen tidak dapat menunjukkan imannya karena di dalam dunia profesinya mempunyai aturan-aturan dan cara-cara yang berbeda dengan kekristenan. Inilah yang harus kita patahkan. Ingatlah Daniel, ketika ia bekerja kepada raja pada saat itu, ia dengan tegas menyatakan imannya kepada Tuhan. Karena Ia mengenal dengan pasti bahwa Allah yang Ia sembah adalah Allah yang dapat dia percayai dan dapat menolongnya di dalam segala situasi. Karena itu mari terapkan hidup seperti Daniel maka engkau akan melihat perkara-perkara besar Tuhan nyatakan dalam hidupmu.

Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.
Daniel 6:11

Bagikan Artikel: