Apakah Kebenaran Sifatnya Relatif?

Bagi sebagian orang kebenaran pada umumnya dianggap sebagai sesuatu yang relatif. Maksudnya kebenaran bagi A, belum tentu dianggap kebenaran bagi si B. Kebenaran di suatu daerah belum tentu menjadi kebenaran di daerah yang lain. Karena itu kebenaran dianggap sebagai sesuatu yang sifatnya relatif, tergantung siapa yang memandangnya dan siapa yang menggunakannya. Karena itu kitab Amsal mengatakan bahwa ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut. Dalam surat Roma juga dikatakan bahwa jika seseorang mendirikan kebenarannya sendiri, ia tidak akan tunduk kepada kebenaran Allah. Karena itu orang percaya atau orang Kristen memiliki standar kebenaran yang mutlak yaitu kebenaran firman Tuhan. Sebab kebenaran firman Tuhan adalah kebenaran yang menyelamatkan yang berasal dari Allah dan kebenaran itu berpusat pada Kristus.

Karena itu sebagai orang percaya kita tidak boleh menjadi orang yang abu-abu. Percaya dengan kebenaran yang ini dan percaya kepada kebenaran yang itu. Sebab itu bukanlah kebenaran yang mampu menyelamatkan hidup kita. Standar kebenaran yang harus kita pegang selama-lamanya adalah firman Tuhan, sebab firman Tuhan adalah kebenaran yang bersumber kepada Allah dan berpusat kepada Kristus. Jadikan firman Tuhan sebagai tolak ukur, untuk mengukur apakah hidup kita benar dan berkenan kepada Allah. Selain itu tunduklah kepada kebenaran Allah, agar kita tidak mendirikan kebenaran sendiri.

Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah.
Roma 10:3

Bagikan Artikel: