Anak Allah yang Sejati

Pembenaran Allah tidak serta merta berakhir ketika seseorang percaya dan dibaptis. Ia harus hidup benar di hadapan Allah. Baptisan menandakan bahwa diri kita yang lama telah disalibkan bersama dengan Kristus, dan kita telah dikubur bersama-Nya melalui baptisan. Setelah dibebaskan dari dosa, kita telah mati bagi dosa dan hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Paulus juga menjelaskan bahwa dahulu kita menyerahkan tubuh kita ini kepada dosa sebagai senjata kelaliman, tetapi sekarang kita harus menunjukkan tubuh kita kepada Allah sebagai senjata kebenaran. Lebih lanjut, kita harus hidup seturut dengan Roh dan membuang perbuatan-perbuatan daging. Dengan mengikuti Roh Kritus yang hidup di dalam diri kita, kita dapat memenuhi persyaratan sebagai anak-anak Allah yang sejati.

Jadi sekarang kita tahu bahwa sebagai pengikut Kristus kita tidak hanya sekedar percaya lalu dibaptis dan akan mendapatkan kehidupan kekal. Tidak! Bukan hanya itu saja, melainkan kita harus hidup dalam kebenaran, menyerahkan hidup kita untuk dipakai alat sebagai senjata kebenaran dan kita juga harus hidup seturut kehendak Roh Allah yang ada dalam diri kita. Hanya dengan berbuat demikianlah kita layak disebut anak Allah yang sejati yang siap mewarisi kerajaan-Nya.

Dan karena kita anak-Nya, maka kita akan ikut memiliki harta kekayaan-Nya, sebab segala yang diberikan Allah kepada Yesus Kristus, Anak-Nya, sekarang menjadi milik kita juga. Tetapi, jikalau kita ingin mendapat bagian dalam kemuliaan-Nya, maka kita harus juga mengambil bagian dalam penderitaan-Nya.
Roma 8:17 (FAYH)

Bagikan Artikel: