Air Panas dan Air Dingin

Air Panas dan Dingin
Air Panas dan Dingin

Menjadi anak-anak Tuhan merupakan sebuah karunia yang sangat luar biasa dan tidak dapat tergantikan. Ketika kita menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka pada detik itu juga, hidup kita akan berubah dari yang penuh tanda tanya menjadi sangat pasti. Bagaimana tidak, jaminan keselamatan, hari depan yang penuh harapan, dan bahkan kehidupan kekal bersama Tuhan menjadi hal pasti yang akan kita terima.

Dengan berdasar pada semua hal yang akan kita peroleh, Tuhan pun juga  meminta kita untuk menjadi pengikutnya yang “pasti”. Dalam hal ini kita diminta untuk menjadi pengikut Kristus yang tidak suam-suam kuku, memiliki pendirian yang tetap dan berani berpegang teguh pada kebenaran dalam setiap kondisi dan masalah. Tentunya ini bukanlah masalah yang sepele mengingat Tuhan memberi peringatan sangat keras kepada setiap orang Kristen yang tidak sungguh-sungguh. Di dalam Wahyu 3:16 dikatakan bahwa orang Kristen yang tidak bersunggguh-sungguh mengikut Tuhan, akan dimuntahkan dari mulut Tuhan. Dengan kata lain, jika kehidupan kita masih diliputi oleh hal-hal duniawi, pergi ke dukun, percaya pada ramalan bintang dan menaruh harap kepada primbon, maka kita tidak akan mendapatkan janji yang sudah Tuhan tetapkan.

Pentingnya menjadi seorang yang bersungguh-sungguh dalam Tuhan akan sangat berpengaruh kepada cara kita menyerap firman Tuhan yang kita dengar. Jika kehidupan yang sungguh-sungguh kepada Tuhan dapat digambarkan dalam sebuah perumpamaan, maka perumpamaan yang tepat adalah seperti saat kita ingin membuat teh. Ya, hidup yang benar di dalam Tuhan adalah seperti air panas dan teh celup. Dalam perumpamaan ini, kehidupan orang Kristen yang benar diibaratkan sebagai air panas, sementara kehidupan orang Kristen yang suam-suam kuku diumpamakan seperti air dingin, dan teh celup diumpamakan sebagai firman Tuhan yang kita dengar. Maka ketika kita mencelupkan teh ke dalam air panas, air tersebut akan berubah menjadi pekat dan rasa air tersebut akan berubah menjadi rasa teh. Tetapi berbeda ketika kita mencelupkan teh ke dalam air dingin. Air tersebut tidak akan terlalu pekat, dan rasanya pun akan terasa hambar, karena teh tersebut tidak bisa benar-benar menyatu didalam air dingin tersebut.

Seperti halnya perumpamaan tentang teh celup tersebut, ketika kita menjadi “dingin” akan firman Tuhan, maka buah roh yang kita hasilkan pun tidak akan bisa dinikmati oleh orang lain. Sehingga ketika orang lain mengecap kehidupan kita, rasa yang akan keluar adalah rasa tawar. Tetapi berbeda ketika kita menjadi pribadi yang bersungguh-sungguh. Maka firman Tuhan akan dengan cepat menyatu di dalam kehidupan kita. Terlebih lagi kita akan memberikan rasa yang manis dan dapat menjadi contoh yang baik bagi sesama maupun orang yang belum mengenal Tuhan. Maka dari itu biarlah kita selalu melekat pada Tuhan secara total dan bersungguh-sungguh mengikut Tuhan.

Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan

Roma 12:11

Bagikan Artikel: