Mengasihi Tanpa Cemburu

Tanpa Cemburu

Tanpa Cemburu

Kita sering mendengar kalimat “Cemburu adalah tanda cinta.” Saat kita merasa cemburu pada orang yang kita kasihi itu berarti kita sangat mengasihi mereka. Benarkah demikian? Pada kenyataannya, kecemburuan adalah salah satu penyebab keributan dalam suatu hubungan. Kita sadari atau tidak, kecemburuan yang muncul perlahan-lahan akan mengakibatkan ketidaksabaran, ketidaknyamanan, pertengkaran, dan tidak jarang berujung pada perbuatan yang menyakiti dan membahayakan orang lain.

Paulus menjelaskan bahwa orang yang mengasihi orang lain akan menunjukkan buktinya melalui kesabaran dan baik hati, tidak meluap dalam kecemburuan dan kesombongan. Kecemburuan seringkali muncul karena diakibatkan oleh kecurigaan dan prasangka. Munculnya rasa cemburu memang menandakan bahwa masih adanya rasa memiliki dan takut kehilangan sesuatu yang sangat penting. Namun cemburu tanpa didasari pemikiran yang rasional dapat berakibat fatal. Bukan menyelesaikan masalah, justru akan menimbulkan masalah baru serta kehancuran sebuah hubungan.

Kasih mampu memadamkan kecemburuan. Hubungan yang dilandasi kasih adalah hubungan yang dipenuhi dengan kejujuran dan saling percaya, dari sana tidak akan muncul kecemburuan karena kedua belah pihak sama-sama percaya dan saling menjaga kepercayaan. Dalam suatu hubungan, kita diingatkan agar tidak mudah terbakar cemburu, melainkan memelihara hubungan itu dengan saling mengingatkan dan memperhatikan di dalam kasih.

Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong.

1 Korintus 13:4

Bagikan Artikel Ini :

Tags: , , ,

You might also likeclose