Mencintai dalam Ketidaksempurnaan

Mencintai dalam Ketidaksempurnaan

Mencintai dalam Ketidaksempurnaan

Setelah berkali-kali mengalami berbagai macam kegagalan dan patah hati dalam hubungan cinta, masih mampukah kita percaya akan adanya cinta sejati? Kenyataan saat ini adalah terlalu banyak orang yang menuntut kesempurnaan dalam cinta padahal tidak ada yang sempurna kecuali Tuhan. Kita hanyalah manusia biasa yang tidak luput dari dosa. Semakin kita menuntut kesempurnaan dari pasangan kita, maka semakin besar kemungkinan hubungan yang kita jalin dengan pasangan kita akan gagal dan berakhir. Kidung Agung mengisahkan kekuatan cinta gadis Sulam. Gadis Sulam lebih mencintai kekasihnya yang adalah seorang gembala dan tidak terpikat oleh raja kaya raya, yang ingin meminangnya. Kitab ini pun mencatat bahwa cinta sejati itu dikobarkan Allah sendiri pada pasangan yang diberkati-Nya (Kidung Agung 8:6).

Alkisah seorang murid bertanya kepada gurunya, “Cinta itu apa?” lalu gurunya berkata, “Sebelum saya menjawab pertanyaanmu, saya ingin kamu pergi ke ladang gandum dan kembali dengan membawa gandum terbesar. Peraturannya adalah, saat kamu melewati tanaman-tanaman tersebut, kamu tidak bisa kembali untuk memilih.”Murid itu pergi ke ladang lalu ia melihat satu gandum besar di baris pertama tapi berpikir, “Mungkin masih ada gandum yang lebih besar di tempat lain,” lalu ia melihat gandum besar yang lain tetapi ia berpikir hal yang sama. Setelah ia selesai melihat-lihat dan mencari setengah dari ladang gandum, Ia menyadari bahwa gandum-gandum di baris berikutnya tidak sebesar gandum sebelumnya. Ia tahu bahwa ia telah melewatkan gandum yang paling besar dan menyesalinya jadi ia kembali kepada gurunya dengan tangan yang kosong. Gurunya berkata, “Ini adalah cinta. Jika kamu tetap terus mencari yang lebih baik, pada akhirnya kamu akan menyadari bahwa kamu tidak bisa kembali kepada orang tersebut. Lalu murid tersebut bertanya, “Lalu pernikahan itu apa?” gurunya berkata, “Pergilah ke ladang jagung dan pilihlah jagung terbesar dengan peraturan seperti tadi.” Murid tersebut pergi ke ladang jagung dan kali ini ia sangat berhati-hati memilih dan tidak mengulangi kesalahan sebelumnya. Ia memilih satu jagung berukuran sedang dan sangat puas dengan pilihannya. Gurunya berkata, “Kali ini kamu kembali membawa jagung yang terlihat baik. Kamu yakin dan percaya bahwa inilah yang terbaik yang telah kamu dapatkan. Itu adalah pernikahan.”

Terimalah anugerah Tuhan, yang mengaruniakan kepada kita cinta yang sejati dan tulus terhadap pasangan kita. Mencintai seseorang artinya bisa menerima segala kelebihan dan kelemahan pasangan kita. Mencintai berarti memberi, rela berkorban, dan tidak mementingkan diri sendiri. Kekuatan cinta sejati Yesus Kristus kepada kita manusia yang berdosa dan sering mengecewakan-Nya menjadi teladan dan contoh yang sempurna tentang bagaimana cara mencintai sesama dan pasangan kita. Kita harus mampu mencintai dalam ketidaksempurnaan dengan cara yang sempurna seperti Tuhan mengasihi kita.

Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.

Kidung Agung 8:7

Tags: , , ,

You might also likeclose