Memandang ke Atas

Memandang ke Atas

Memandang ke Atas

Seorang pekerja pada proyek bangunan sedang berada di atas tembok yang sangat tinggi. Saat itu ia akan menyampaikan pesan kepada teman kerjanya yang ada di bawah, sehingga pekerja itu berteriak-teriak dari atas. Namun karena suara bising dari mesin-mesin dan orang-orang yang sedang bekerja, temannya yang ada di bawah tidak dapat mendengar. Karena itu untuk menarik perhatiannya, ia menjatuhkan uang logam tepat di depan temannya. Temannya berhenti bekerja, mengambil uang itu lalu kembali bekerja. Pekerja itu mencoba lagi, tetapi usahanya yang keduapun memperoleh hasil yang sama. Lalu ia mendapat ide, ia mengambil batu kecil dan menjatuhkannya ke arah orang itu. Batu itu tepat mengenai kepala temannya, dan karena merasa sakit temannya menengadah ke atas. Akhirnya pekerja itu dapat menyampaikan pesannya.

Berkat Tuhan seringkali tidak cukup untuk membuat kita memandang ke atas. Kita mungkin terlalu menikmatinya dan lupa untuk berterima kasih pada Dia yang menurunkannya. Atau kita terlalu larut dalam masalah-masalah kita sehingga lupa dengan kuasa Tuhan yang lebih besar. Bangsa Israel juga sering mengecewakan Tuhan karena terlalu sibuk menuntut dan lupa mensyukuri berkat-berkat-Nya. Karena itu Tuhan kadang menggunakan pengalaman yang menyakitkan untuk membuat kita memandang pada-Nya.

Tuhan selalu setia memberi yang terbaik dan merindukan agar kita juga selalu mengingat-Nya dalam ucapan syukur. Tuhan senantiasa menunggu agar kita memandang pada-Nya seperti yang tertulis pada Mazmur 14:2, “TUHAN memandang ke bawah dari sorga kepada anak-anak manusia untuk melihat, apakah ada yang berakal budi dan yang mencari Allah.” Lihatlah ke bawah untuk mensyukuri semua berkat Tuhan dan lihatlah ke atas untuk mengingat dan selalu setia pada-Nya.

Demikianlah aku memandang kepada-Mu di tempat kudus, sambil melihat kekuatan-Mu dan kemuliaan-Mu.

Mazmur 63:3

Tags: , , ,

You might also likeclose