Kekuatan untuk Mengampuni

Apa yang akan kamu rasakan ketika anakmu tidak pernah mengakuimu sebagai ibunya dan justru menganggap orang lain sebagai keluarganya? Apa yang akan kamu rasakan ketika orang-orang yang selama ini kamu kasihi, berbalik memusuhi dan menghinamu?

Mungkin hatimu akan hancur berkeping-keping. Ada rasa kecewa yang begitu dalam, ada rasa ingin marah, atau mungkin muncul rasa ingin membalas dendam? Seperti kejadian yang dialami oleh seorang wanita paruh baya yang dimushi oleh menantunya. Dan yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika si anak berbalik menjadi jahat kepada ibunya sendiri. Wanita patuh baya memang merasa kecewa, namun ia selalu mencoba memerangi kepahitan dengan pengampunan.

Seperti tertusuk jarum di balik selimut, itulah yang akan dirasakan saat orang-orang yang dikasihi berbalik menyakiti. Tidak mudah untuk mengampuni seseorang yang sudah menggoreskan luka begitu dalam. Untuk menyembuhkan luka memerlukan waktu. Dan sepanjang itulah hati kita diproses untuk benar-benar memiliki pengampunan yang murni.

Kita memang tidak akan pernah sanggup menghadapi luka itu seorang diri. Semakin kita mencoba bertahan dengan kekuatan diri sendiri, maka akan semakin sulit untuk mengampuni. Kita membutuhkan kasih Bapa agar menjamah hati kita. Tuhan akan memampukan kita untuk menolak rasa-rasa negatif yang timbul dalam hati.

Kasih itu tidak akan pernah memperburuk keadaan. Kasih selalu memandang segala sesuatu dari sisi yang positif. Ketika kita mampu berpikiran positi, maka hati kita pun akan menjadi damai dan jauh dari kebencian.

Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan.

Efesus 4:31

Bagikan Artikel Ini :

Tags: , ,

You might also likeclose