Bukan Kata Orang

Dari mana kita mengenal Allah? Dari kesaksian orang lain? Dari khotbah-khotbah yang kita dengar? Atau dari Alkitab yang kita baca? Semua itu bisa menuntut kita untuk lebih mengenal Allah. Dari kesaksian-kesakaian yang sering kita dengar tentang bagaimana Tuhan bekerja dalam kehidupan mereka, akan membuat kita mengerti sifat-sifat Allah. Di dalam Alkitab pun sering diceritakan tentang kebaikan-kebaikan Tuhan. Lantas apakah itu sudah cukup bagi kita?

Allah menghendaki supaya kita mengenal Dia lebih dari apa yang orang lain katakan. Mengenal lebih dalam tidak bisa dilakukan hanya dengan sekadar mendengar atau membaca. Mengenal harus diawali dengan suatu hubungan. Kita harus benar-benar mengalami kuasa Allah dalam hidup kita.

Dalam kisah Ayub, kita sering berfokus pada hasil akhir dimana Ayub mendapatkan kemakmuran dalam materi yang berlipat ganda. Kita tidak memperhatikan bagaimana gejolak yang timbul dalam hatinya. Ayub tetap mempertahankan kesalehannya meskipun banyak orang menghujat tindakannya itu. Pencobaan yang dialami Ayub membuat dampak yang sangat besar dalam pengenalannya akan Allah. Dalam pencobaan, Ayub memperdalam hubungannya dengan Allah saat mencari solusi untuk situasi yang dihadapinya.

Bagaimana dengan kita? Seharusnya kita melihat dan mengenal Allah melalui hubungan kita dengan Allah. Kita harus menjadi saksi hidup di mana kita telah benar-benar merasa dampak bila hidup dekat dengan Tuhan. Kita mengenal Allah bukan dari apa yang dikatakan oleh orang lain, namun dari pengalaman rohani kita sendiri.

Hanya dari kata orang saja aku mendengar tentang Engkau,  tetapi sekarang mataku sendiri memandang Engkau.

Ayub 42:5

Bagikan Artikel Ini :

Tags: , , ,

You might also likeclose